Dispora Jakarta
Menuju Kota Global, DKI Taruh Seni dan Industri Kreatif Pemuda dalam Strategi Pembangunan Jakarta
Kembali
BERITA10 Agustus 2026

Menuju Kota Global, DKI Taruh Seni dan Industri Kreatif Pemuda dalam Strategi Pembangunan Jakarta

Penulis

Admin Dispora

Diterbitkan Pada

10 AGU 2026

JAKARTA — Transformasi Jakarta menuju kota global mulai diarahkan tidak hanya pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga pada penguatan modal manusia. Salah satu kelompok yang ditempatkan di tengah agenda tersebut adalah generasi muda, termasuk melalui pengembangan seni, budaya, dan industri kreatif.

Arah itu menjadi pesan utama Ajang Kreativitas Pemuda Jakarta (AKPJ) 2026 yang digelar di Jakarta International Velodrome pada 7–9 Agustus 2026. Ajang tersebut mempertemukan 346 peserta dari lima kota administrasi serta Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekda DKI Jakarta Ali Maulana Hakim mengatakan Jakarta sedang bergerak menuju kota global bersamaan dengan perjalanan menuju usia lima abad.

“Jakarta sedang bergerak menuju kota global dan memasuki perjalanan menuju lima abad usia kota,” katanya.

“Dalam perjalanan tersebut, pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, teknologi, dan ekonomi, tetapi juga tentang pembangunan sumber daya manusia, khususnya pemuda sebagai agen perubahan, agen pembangunan, dan agen masa depan.”

Pernyataan itu memperlihatkan pergeseran cara pemerintah memandang kreativitas. Seni dan ekspresi anak muda tidak lagi semata dianggap aktivitas rekreatif, tetapi mulai diletakkan sebagai bagian dari pembangunan kualitas manusia.

AKPJ menyediakan delapan kategori kompetisi yang mewakili berbagai spektrum kreativitas: vokal solo, fashion design, desain grafis, monolog, band, Tari Kreasi Betawi, modern dance, serta cosplay.

Menariknya, pilihan bidang tersebut mempertemukan dua kutub budaya sekaligus.

Pada satu sisi terdapat Tari Kreasi Betawi, yang merepresentasikan akar kebudayaan lokal Jakarta. Pada sisi lain terdapat desain grafis, modern dance, dan cosplay yang tumbuh kuat dalam kebudayaan urban dan global.

Komposisi itu menjadi refleksi identitas Jakarta sendiri: kota yang harus menjaga akar kebudayaan lokal sambil terus beradaptasi dengan perkembangan global.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan salah satu target AKPJ adalah mempersiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perubahan.

“Mempersiapkan generasi muda Jakarta yang kreatif, adaptif, inovatif, dan berdaya saing menuju Jakarta sebagai kota global,” kata Andri dalam laporan pelaksanaan kegiatan.

Bagi Jakarta, agenda tersebut memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kompetisi seni.

Industri kreatif di kota besar berkembang dengan logika yang berbeda dari sektor konvensional. Modal utamanya bukan hanya pabrik atau lahan, tetapi ide, kreativitas, jejaring, teknologi, serta kemampuan mengubah karya menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi.

Karena itu, mengembangkan generasi kreatif sebenarnya dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi kota.

Namun di sisi lain, menghubungkan kompetisi kreativitas dengan ekonomi kreatif tidak berlangsung otomatis.

Seorang pemuda dapat memiliki kemampuan vokal bagus, karya desain menarik, atau keterampilan tari yang kuat. Tetapi tanpa akses terhadap mentor, studio, panggung, pembiayaan, pemasaran digital, hingga jaringan industri, talenta tersebut belum tentu berkembang menjadi profesi.

Dokumen AKPJ 2026 belum menjelaskan secara rinci bagaimana jalur pasca-kompetisi itu akan dibangun.

Karena itu, tantangan berikutnya bagi Dispora adalah memastikan keberhasilan AKPJ tidak berhenti pada penyelenggaraan acara.

Andri menyebut salah satu tujuan kegiatan adalah meningkatkan partisipasi dan peran aktif pemuda dalam pembangunan daerah melalui seni, budaya, dan industri kreatif. Pemerintah juga ingin memberikan ruang apresiasi sehingga karya anak muda memberi dampak positif bagi masyarakat.

Konsep tersebut membuka kemungkinan kolaborasi lintas dinas.

AKPJ sendiri melibatkan atau mengundang perangkat daerah yang menangani pendidikan, kebudayaan, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta perdagangan dan UMKM.

Jika hubungan tersebut dijalankan secara konkret, pemenang desain misalnya dapat memperoleh akses terhadap program ekonomi kreatif. Talenta pertunjukan dapat masuk kalender kebudayaan atau pariwisata Jakarta. Pemuda yang menghasilkan produk kreatif dapat dipertemukan dengan pasar maupun program kewirausahaan.

Namun perspektif ekonomi juga perlu diseimbangkan dengan fungsi sosial kreativitas.

Tidak semua kreativitas harus berakhir sebagai produk komersial. Seni merupakan ruang ekspresi, pembentukan karakter, keberanian menyampaikan gagasan, serta medium menjaga identitas kota.

Ali Maulana Hakim menekankan dimensi tersebut ketika meminta AKPJ berkembang sebagai ruang pembelajaran.

“Saya berharap AKPJ tidak hanya menjadi ruang kompetisi tetapi menjadi ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi generasi muda yang percaya diri, berkarakter, dan berdaya saing global,” ujarnya.

Keseimbangan antara ekonomi dan fungsi sosial inilah yang penting dijaga.

Keinginan menjadikan Jakarta kota global tidak semestinya membuat kreativitas pemuda hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan uang atau mengikuti tren internasional. Kota global juga membutuhkan identitas budaya, ruang ekspresi, keberagaman, dan kesempatan yang inklusif.

Model seleksi AKPJ yang dimulai dari lima kota dan Kepulauan Seribu setidaknya memberikan fondasi bagi pemerataan geografis. Pemerintah menegaskan setiap wilayah mempunyai kesempatan menampilkan talenta terbaik.

Tetapi pekerjaan berikutnya adalah memastikan kesempatan tersebut benar-benar dapat dijangkau oleh pemuda dari berbagai latar sosial.

Dalam kompetisi kreativitas, mereka yang mempunyai akses terhadap sekolah seni, perangkat desain berkualitas, studio musik, kostum, maupun mentor profesional mempunyai keuntungan awal. Karena itu, pembinaan sebelum kompetisi dan pendampingan setelah kompetisi menjadi sama pentingnya dengan lomba itu sendiri.

AKPJ 2026 pada akhirnya menawarkan sebuah eksperimen menarik.

Jakarta sedang mencoba meletakkan pemuda kreatif sebagai bagian dari strategi masa depan kota. Pemerintah sudah menyediakan panggung. Talenta juga tersedia.

Pertanyaan berikutnya ialah apakah panggung itu akan terhubung dengan sebuah ekosistem yang mampu membuat kreativitas anak muda bertahan setelah lampu Velodrome padam.

Sijali Loading
Memuat Portal
Menuju Kota Global, DKI Taruh Seni dan Industri Kreatif Pemuda dalam Strategi Pembangunan Jakarta | Dispora DKI Jakarta