
Penulis
Admin Dispora
Diterbitkan Pada
13 OKT 2026
Perjalanan kontingen SOIna DKI Jakarta menuju PESONAS II 2026 bukan hanya tentang target prestasi, tetapi juga tentang proses pembinaan, dukungan keluarga, dan kesempatan bagi atlet disabilitas intelektual untuk menunjukkan kemampuannya.
Sebuah kejuaraan menjadi kesempatan bagi atlet untuk menguji kemampuan yang telah dipersiapkan melalui latihan. Namun, bagi atlet disabilitas intelektual, perjalanan menuju pertandingan juga memiliki arti lain. Ada proses mengenali potensi, membangun kepercayaan diri, dan memperoleh pengalaman dalam lingkungan yang memberikan ruang untuk berkembang.
Hal tersebut tergambar dalam perjalanan kontingen Special Olympics Indonesia (SOIna) DKI Jakarta menuju Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) II Tahun 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kontingen Jakarta diperkuat oleh 120 atlet, didampingi 57 pelatih dan 43 ofisial. Keikutsertaan mereka menjadi bagian dari upaya mengembangkan prestasi sekaligus memberikan pengalaman berkompetisi bagi atlet disabilitas intelektual.
Di balik persiapan tersebut, terdapat dukungan keluarga yang menyertai proses atlet. Dalam acara pelepasan kontingen di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, pada 9 Oktober 2026, tercatat 120 orang tua atau pendamping turut menjadi bagian dari rombongan. Kehadiran mereka menggambarkan besarnya dukungan yang menyertai perjalanan atlet, meskipun setiap keluarga memiliki pengalaman dan harapan yang berbeda.
Bagi sebagian orang tua, keberhasilan anak bukan semata-mata ditentukan oleh hasil akhir pertandingan. Kesempatan untuk berjuang, menjalani proses latihan, dan menunjukkan kemampuan juga menjadi bagian penting dari perjalanan yang mereka dukung.
Salah seorang orang tua atlet senam mengungkapkan harapannya agar sang anak selalu diberikan kesehatan dan kekuatan selama mengikuti kompetisi. Ia memahami bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari proses, sedangkan usaha untuk memberikan yang terbaik merupakan hal yang patut dihargai.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa dukungan keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk tuntutan untuk menjadi juara. Ada pula keinginan agar anak mampu menghadapi tantangan, percaya pada kemampuannya, dan memperoleh pengalaman yang berguna bagi perkembangan dirinya.
Ketika Pembinaan Membuka Jalan
Salah satu cerita yang menarik datang dari keluarga atlet bulu tangkis yang baru mengenal SOIna sekitar dua tahun lalu. Sebelumnya, mereka belum mengetahui adanya wadah pembinaan yang dapat membantu anaknya mengembangkan kemampuan melalui olahraga.
“Alhamdulillah rupanya ada wadah yang selama ini kami tidak tahu,” ungkap salah seorang orang tua atlet.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan wadah pembinaan memiliki arti penting bagi keluarga yang sedang mencari ruang bagi anaknya untuk berkembang. Minat dan kemampuan membutuhkan kesempatan untuk diasah, didampingi, dan diuji melalui pengalaman yang sesuai.
Anak yang bersangkutan juga memiliki cita-cita menjadi pemain bulu tangkis seperti Taufik Hidayat. Keinginan itu memperlihatkan bahwa atlet disabilitas intelektual juga memiliki sosok yang dikagumi dan target yang ingin dicapai melalui olahraga. Mereka bukan sekadar peserta dalam sebuah kegiatan, melainkan individu dengan minat, ambisi, dan perjalanan perkembangan masing-masing.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa akses terhadap pembinaan perlu mendapat perhatian. Potensi tidak cukup hanya dikenali, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang mendukung agar dapat berkembang. Keberadaan pelatih, kesempatan berlatih, serta partisipasi dalam kompetisi menjadi bagian dari proses tersebut.
Karena itu, pembinaan olahraga tidak semestinya hanya dipandang sebagai persiapan menjelang kejuaraan. Prosesnya perlu berlangsung secara berkelanjutan agar atlet tetap memiliki ruang untuk meningkatkan kemampuan dan mengejar target berikutnya.
Perkembangan yang Tidak Selalu Terlihat di Papan Skor
Persiapan menuju PESONAS II 2026 juga menjadi kesempatan bagi para pelatih untuk melihat perkembangan atlet selama menjalani latihan. Kesiapan menghadapi pertandingan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga dengan kemampuan mengikuti arahan, membangun kepercayaan diri, dan menjalani proses latihan secara konsisten.
Pelatih bocce, Rahmad, menilai bahwa selama beberapa bulan latihan, para atlet mulai menunjukkan perkembangan dalam mengikuti instruksi. Ia juga melihat kepercayaan diri dan kemandirian mereka mulai tumbuh.
Penilaian tersebut memberikan gambaran tentang aspek pembinaan yang tidak selalu tercermin melalui jumlah medali. Perkembangan atlet dapat terlihat dari proses yang dijalani selama latihan, termasuk kemampuan memahami arahan dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi. Meski demikian, perkembangan setiap atlet tetap perlu dilihat berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing.
Pelatih senam, Ermyka Elma, juga mengingatkan para atlet agar tetap bersemangat dan tidak mudah menyerah. Ia meminta mereka memberikan kemampuan terbaik seperti yang telah dilakukan selama latihan di Jakarta. Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga konsistensi antara persiapan dan pelaksanaan pertandingan.
Sementara itu, para pelatih tetap membawa target prestasi untuk kontingen Jakarta. Pelatih renang menargetkan hasil maksimal, termasuk juara umum di cabang olahraga renang. Pelatih tenis meja juga menargetkan medali emas pada nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran.
Target tersebut menunjukkan keseriusan kontingen dalam menghadapi kompetisi. Namun, hasil pertandingan nantinya juga perlu menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana persiapan dapat diterapkan dan aspek apa yang masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, kompetisi dapat memberikan manfaat bagi pengembangan atlet, baik melalui pencapaian prestasi maupun pengalaman yang diperoleh.
Setelah Kompetisi, Pembinaan Harus Berlanjut
PESONAS II 2026 menjadi salah satu tahap dalam perjalanan atlet SOIna DKI Jakarta untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar prestasi. Bagi atlet, kompetisi memberikan pengalaman untuk menghadapi lawan dan menerapkan hasil latihan. Bagi pelatih, pertandingan menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan dan perkembangan atlet. Sementara itu, bagi keluarga, keikutsertaan anak dalam ajang nasional menjadi bagian dari perjalanan yang mereka dukung.
Setiap peran tersebut saling berkaitan. Namun, keberhasilan pembinaan tidak cukup diukur dari seberapa siap sebuah kontingen diberangkatkan atau berapa banyak medali yang berhasil diperoleh. Perlu ada kesinambungan antara latihan, pendampingan, evaluasi, dan kesempatan untuk mengikuti kompetisi berikutnya.
Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tantangan selanjutnya adalah memastikan dukungan terhadap atlet disabilitas intelektual tidak berhenti pada keikutsertaan dalam kejuaraan. Akses terhadap fasilitas latihan, pendampingan pelatih, dan kesempatan bertanding perlu menjadi bagian dari perhatian dalam pengembangan olahraga yang inklusif.
Hal ini penting karena setiap atlet memiliki kebutuhan dan perkembangan yang berbeda. Pembinaan yang berkelanjutan memberi ruang bagi atlet untuk terus mengasah kemampuan, sementara evaluasi yang dilakukan secara berkala dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan pengembangan berikutnya.
Pada akhirnya, PESONAS bukanlah akhir dari perjalanan para atlet. Setelah pertandingan selesai, masih ada kemampuan yang dapat ditingkatkan, pengalaman yang dapat dipelajari, dan target yang dapat dikejar. Dukungan keluarga, pendampingan pelatih, serta keberlanjutan pembinaan akan menentukan sejauh mana pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi perjalanan mereka selanjutnya.


