
Seleksi PPOP Tak Hanya Fisik, Paling Utama Mental dan Disiplin Jadi Penentu
Penulis
Admin Dispora
Diterbitkan Pada
29 APR 2026
DISPORA JAKARTA — Seleksi masuk Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) DKI Jakarta tidak hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga mental dan kesiapan hidup mandiri para calon atlet.
Kepala PPOP DKI Jakarta, Rusdianto, mengatakan pembinaan di PPOP bersifat terintegrasi, mencakup latihan olahraga, pendidikan akademik, hingga pembentukan karakter.
“PPOP bukan sekadar tempat latihan. Ini adalah sistem pembinaan yang menyeluruh, dari fisik, akademis, hingga pola kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh atlet yang lolos seleksi akan menjalani sistem asrama dengan pengawasan 24 jam. Pola hidup mereka diatur mulai dari latihan pagi, sekolah, hingga istirahat malam.
Dari sisi seleksi, peserta tidak hanya diuji keterampilan cabang olahraga, tetapi juga tes fisik dasar seperti lari dan renang serta aspek psikologis.
Alumni PPOP cabang panjat tebing, Aninda Kolbiarsila, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam seleksi justru berasal dari kesiapan mental.
“Bukan hanya fisik yang harus siap, tapi mental juga. Apalagi nanti hidup di asrama, jauh dari keluarga, itu jadi tantangan tersendiri,” katanya.
Hal serupa disampaikan Mukhlisin, atlet pencak silat alumni PPOP, yang menilai persiapan fisik menjadi faktor dominan dalam seleksi.
“Fisik itu tidak bisa instan. Saya sendiri persiapan fokus sekitar tiga bulan sebelum tes,” ujarnya.
Dispora menegaskan bahwa kombinasi antara fisik, teknik, dan mental menjadi indikator utama dalam menentukan atlet yang layak masuk PPOP.



