PEMBUKAAN PEKAN PARALIMPIK PELAJAR NASIONAL IX (PEPARPENAS) DKI JAKARTA

Dipublikasikan pada 10 Nov 2019 oleh Administrator


Upacara pembukaan Pekan Paralympic Pelajar Nasional (Peparpenas) IX Tahun 2019, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali resmi membuka Pekan Paralympic Pelajar Nasional (Peparpenas) IX Tahun 2019 berlangsung di GOR Pulo Gadung, Jakarta Timur, Sabtu (9/11/2019).

Menpora bersama atlet pelajar disabilitas sukses melakukan prosesi penyulutan api Peparpenas IX.Prosesi penyulutan api dilakukan Menpora bersama atlet pelajar disabilitas. Adapun pembawa obor pertama oleh M. Afrizal Syafa (Boccia) dari Jawa Tengah. Dari Afrizal, obor pun diserahkan kepada Menpora Zainuddin. Setelah itu dia kemudian memberikan obor kepada Fajar Tri Hadi (atlet renang) dari DKI Jakarta.


Menpora Zainudin bersama kedua atlet disabilitas tersebut langsung menyerahkan kepada M. Khafid Umar (atlet renang) dari DKI Jakarta dan dilanjutkan kepada Al Imran Anasrus (atletik) dari DKI Jakarta dan di akhiri oleh Latifah Fitri (atlet renang) dari Riau.

Latifah Fitri yang bertugas menyulutkan api, nampak tercenung sambil melihat ke arah kaldron saat di gendong Menpora Zainudin. Latifah Fitri kemudian berhasil dengan sukses melakukan tugasnya menyulutkan api ke kaldron.

Dalam sambutannya, Menpora menyampaikan bahwa Peparpenas kali ini adalah Peparpenas yang ke-9 di tahun 2019. Ini berarti perjalanan olahraga paralympic untuk pelajar sudah berlangsung yang ke-9 kalinya.

"Untuk penyelenggaraan kali ini, sebenarnya digelar di Papua tapi karena kondisi tidak memungkinkan maka dipindahkan ke DKI Jakarta," ujarnya.

"Karenanya, atas nama Kementerian Pemuda dan Olahraga kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Gubernur dan seluruh jajaran pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dalam waktu singkat ditunjuk sebagai tuan rumah. Dan alhamdulilah Provinsi DKI Jakarta bersedia menyiapkan segala sesuatunya, termasuk sumber daya manusia yang membantu penyelenggaraan Peparpenas ke-9 ini," tambahnya.

Ia melanjutkan, kegiatan ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap 2 tahun sekali, dan ini membuktikan bahwa pemerintah tidak membeda-bedakan antara penyandang disabilitas maupun tidak.

"Event olahraga ini adalah bentuk nyata bahwa pemerintah memperlakukan secara sama baik yang disabilitas maupun tidak, dan prestasinya juga tetap kita harapkan. Karena dari, even ini diharapkan akan menjadi potensi untuk menjadi juara baik di tingkat nasional atau Internasional," jelasnya.

Menurutnya, berapa waktu lalu, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Para Games 2018. Sebagai penyelenggara, Indonesia sudah bisa membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik.

"Namun demikian untuk prestasinya kita masih harus bersaing dengan negara-negara lain di Asia. Kita berharap pemerintah daerah memberikan perhatian yang serius terhadap pembinaan olahraga di kalangan disabilitas sehingga kegiatan-kegiatan paralympic seperti ini akan diikuti oleh seluruh provinsi dan semakin banyak cabang olahraga yang dipertandingkan," tutupnya.

Sementara, Isnanta, mengatakan bahwa penyandang disabilitas bukan manusia yang perlu kita kasihani, tapi perlu kita sejajaran dengan teman-teman yang lain. Karena kita tahu para atlet disabilitas menunjukkan prestasinya di kancah Asia Tenggara bahkan Olimpiade.

"Karenanya, untuk tahun ini kita siapkan kader-kader muda lewat pelajar. Dari pelajar-pelajar ini nantinya yang akan mengisi Indonesia pada event-event resmi seperti Paralympic dan Asian Para Games," ucapnya.